Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengumumkan pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-54 Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Tahun 2025, sebagaimana tercantum dalam surat Nomor UM.02.02/A/5611/2025 tanggal 27 November 2025. Menindaklanjuti Surat Edaran Dewan Pengurus Nasional KORPRI, Sekretariat Jenderal menginstruksikan seluruh kantor Kementerian Kesehatan, baik di Pusat maupun Daerah, untuk menyelenggarakan upacara secara luar jaringan (luring) di lingkungan kerja masing-masing.Pelaksanaan upacara ditetapkan pada hari Senin, 1 Desember 2025, dengan waktu pelaksanaan di tingkat pusat dimulai pukul 07.30 WIB, sementara untuk tingkat daerah dilaksanakan pada pukul 07.30 waktu setempat. Adapun tema yang diusung dalam peringatan tahun ini adalah "Bersatu, Berdaulat, Bersama KORPRI, Mewujudkan Indonesia Maju". Seluruh peserta upacara diwajibkan hadir mengenakan pakaian seragam KORPRI yang dilengkapi dengan peci hitam.Susunan acara akan dimulai dengan persiapan pasukan, penghormatan, dan laporan kepada Inspektur Upacara, yang dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Mars Hidup Sehat serta pengibaran Bendera Merah Putih. Rangkaian kegiatan inti meliputi mengheningkan cipta, pembacaan teks Pancasila, Pembukaan UUD 1945, serta Panca Prasetya KORPRI. Upacara kemudian diteruskan dengan amanat Inspektur Upacara, menyanyikan Lagu Mars KORPRI, dan pembacaan doa sebelum akhirnya barisan dibubarkan
Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan Tingkat Provinsi dalam Safe Hospital pada tanggal 25–28 November 2025 bertempat di Bigland Bogor Hotel International & Convention Hall, Kota Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan secara tatap muka dengan melibatkan perwakilan tenaga kesehatan dari berbagai Dinas Kesehatan Provinsi, Rumah Sakit dan Universitas/ Politeknik terpilih di Indonesia.Program Safe Hospital merupakan strategi nasional untuk mewujudkan rumah sakit yang tetap aman, berfungsi, dan berkelanjutan saat terjadi bencana maupun kondisi krisis kesehatan lainnya. Dalam konteks Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana, peningkatan kapasitas SDM kesehatan menjadi sangat penting agar pelayanan medis tidak terhenti dan mampu menyelamatkan lebih banyak jiwa dalam situasi darurat.Kegiatan ini diikuti oleh 42 peserta (13 Dinas Kesehatan, 14 Perguruan Tinggi dan 15 dari Rumah Sakit) dan dibuka oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan, serta menghadirkan narasumber dari internal Pusat Krisis Kesehatan dan tim akademisi dari Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) UGM, serta Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Para peserta mendapatkan pembekalan komprehensif mengenai: Kebijakan nasional Rumah Sakit Aman Bencana Konsep integrasi HDP, HSI, dan akreditasi rumah sakit Penilaian risiko menggunakan HVA dan HSI Sistem Komando Insiden Rumah Sakit (HICS) Indikator struktural, non-struktural, dan fungsional RS aman bencana Praktik penyusunan dokumen Hospital Disaster Plan (HDP)Pelatihan dilakukan menggunakan metode pemaparan materi, diskusi, studi kasus, hingga praktik langsung, sehingga peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya pada fasilitas kesehatan masing-masing. Selain itu, dilakukan pula pretest dan posttest mengenai efektivitas pelatihan serta sesi FGD untuk penguatan peran peserta sebagai fasilitator Safe Hospital di tingkat daerah.Melalui pelatihan ini, Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem ketahanan kesehatan nasional, khususnya melalui peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar mampu memastikan rumah sakit tetap dapat memberikan layanan secara aman dan efektif pada setiap kondisi bencana. Ke depannya, para peserta diharapkan menjadi ujung tombak fasilitasi implementasi Safe Hospital di wilayah masing-masing dalam rangka mewujudkan Rumah Sakit Tangguh Bencana di seluruh Indonesia.
Disini anda dapat mengunduh laporan pemantauan harian berpotensi kejadian Krisis Kesehatan tanggal 25 November 2025 Lihat Laporan Pemantauan Harian Pusat Krisis Kesehatan 25 November 2025
Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dan Kearsipan : Urat Nadi Kecepatan OrganisasiDrg. Widyawati. MKMArsiparis Ahli Utama/ Juru Bicara Kementerian Kesehatan RIDari Gudang Kertas Menjadi Pusat Informasi CepatDi era ini, kita hidup dalam tuntutan yang keras, di mana waktu bukanlah uang, melainkan nyawa. Dan di koridor-koridor institusi kesehatan, masih ada "Gudang-Gudang Kertas" yang sunyi—ruangan remang-remang yang menyimpan tumpukan sejarah, memori kolektif yang tertidur di balik debu. Namun, tidur panjang itu harus berakhir. Sebab, ada sebuah gempa kebijakan yang datang: Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). Ini adalah panggilan perang dari Presiden Prabowo terhadap inefisiensi, sebuah sumpah untuk memberikan Layanan Terbaik dan meraihnya dengan Kecepatan Tertinggi (Best Result, Fast Result).Percepatan informasi dan tuntutan kinerja yang semakin tinggi, konsep mencapai "Hasil Terbaik Cepat" (PHTC) bukan lagi sekadar harapan, melainkan sebuah keharusan. Dalam konteks administrasi dan pengambilan keputusan, fondasi dari kecepatan dan ketepatan ini terletak pada satu pilar krusial: Kearsipan.Kearsipan sering dipandang sebagai kegiatan administratif yang statis, padahal sesungguhnya ia adalah urat nadi yang menentukan kecepatan dan kualitas setiap kinerja organisasi. Dalam mewujudkan visi Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo di sektor kesehatan—terutama melalui inisiatif Cek Kesehatan Gratis, Penurunan Angka TBC, dan Penambahan RSUD—paradigma kearsipan harus segera bertransformasi. Dokumen ini akan mengeksplorasi langkah-langkah strategis dan inovasi teknologi yang harus diterapkan dalam pengelolaan arsip medis dan data kesehatan. Tujuannya adalah memastikan bahwa kearsipan menjadi agen perubahan yang secara nyata mendukung perwujudan hasil kerja kesehatan yang optimal dalam periode waktu yang cepat dan terukur, jauh dari citra lama sebagai tumpukan kertas yang lambat.Kecepatan dalam pengambilan keputusan yang akurat adalah penentu keberhasilan di masa kini, terutama dalam sektor vital seperti kesehatan publik. Program yang mengusung semangat "Hasil Terbaik Cepat" (PHTC) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo menuntut ketersediaan data dan informasi kesehatan yang cepat, valid, dan mudah diakses. Di sinilah peran vital Kearsipan disorot. Kita bisa mengerti bagaimana tata kelola arsip medis dan data kesehatan yang modern dan terintegrasi tidak hanya mendukung, tetapi bahkan menjadi motor penggerak utama dalam mencapai target-target ambisius PHTC untuk mewujudkan sistem kesehatan yang lebih responsif dan berkualitas bagi seluruh rakyatArsip: Bukan Beban, Melainkan Kekuatan UtamaDi tengah pusaran tuntutan kinerja yang serba cepat, sistem kearsipan tradisional yang didominasi oleh tumpukan berkas dan prosedur manual, kini berada pada titik kritis. Paradigma lama harus segera ditinggalkan, sebab ia tidak lagi relevan dengan inisiatif besar pemerintah, yakni Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), khususnya di sektor kesehatan. PHTC meluncurkan inisiatif masif: Cek Kesehatan Gratis untuk jutaan orang, penanggulangan TBC yang membutuhkan intervensi kilat, dan percepatan pembangunan RSUD yang harus berdiri secepatnya. Program-program ini tidak bisa menunggu. Bagaimana mungkin kita menjanjikan kecepatan tertinggi, jika fondasinya masih berupa tumpukan map yang rentan hilang?Seorang dokter tak bisa menyelamatkan nyawa TBC dengan cepat jika harus mencari riwayat pengobatan pasien dari lemari arsip yang jaraknya berkilo-kilo dari ruang perawatan. Seorang menteri tak bisa memutuskan alokasi anggaran pembangunan RSUD jika arsip kontrak dan legalitasnya masih terkunci dalam brankas besi, menunggu proses fotokopi yang lamban. PHTC akan menjadi fatamorgana jika kearsipan kita masih berjalan kaki.Lahirnya "Pusat Informasi Cepat"Kearsipan tidak boleh lagi menjadi "fungsi administratif" yang pasif dan lamban. Ia harus bertransformasi menjadi Pusat Informasi Cepat—sebuah otak digital yang gesit. Transformasi ini adalah pergeseran radikal. Kami mendefinisikannya dalam dua gerakan strategis: Rekam Medis Elektronik (RME) sebagai Darah Baru: Menarik rekam medis kertas yang berharga, mendigitalisasinya, dan menyuntikkannya ke dalam RME yang terstandar secara nasional. RME harus menjadi arsip utama yang selalu on-demand, menjamin akuntabilitas dan kecepatan diagnosis. Arsip Dinamis Digital Terintegrasi: Seluruh arsip pendukung—kontrak pengadaan, dokumen aset, hingga keuangan program—diubah menjadi data digital yang fluid. Ini menciptakan satu sumber kebenaran (a single source of truth) yang terintegrasi dari pusat hingga fasilitas kesehatan paling pelosok.Singkatnya, kita menutup babak Gudang Kertas, dan membuka lembaran baru di mana arsip adalah aset strategis, sebuah mesin yang memastikan bahwa setiap janji PHTC dapat terwujud: tepat, terbaik, dan—yang terpenting—cepat. Inovasi Kearsipan Mendukung Tiga Program PHTCJika transformasi kearsipan adalah gerakan besar, maka tiga program PHTC di bidang kesehatan adalah medan perangnya. Kearsipan digital harus membuktikan dirinya bukan sekadar pengganti kertas, melainkan senjata strategis yang menjamin kemenangan.Misi 1: Cek Kesehatan GratisProgram Cek Kesehatan Gratis adalah sebuah badai data yang positif. Jutaan warga diakses, jutaan data kesehatan tercipta dalam sekejap. Volume data yang masif ini berisiko besar menjadi tumpukan kertas baru yang tak terolah, kecepatan skrining akan sia-sia jika tindak lanjutnya menunggu proses entry manual yang rawan salah. Sebuah sistem kearsipan yang canggih, menggunakan teknologi dalam bentuk barcode untuk membaca hasil tes fisik. Data hasil skrining ini tidak pernah menyentuh kertas, melainkan langsung melompat ke dalam Rekam Medis Elektronik (RME) pasien. Pasien yang terdeteksi memiliki risiko diabetes atau hipertensi tidak lagi menunggu berminggu-minggu untuk dipanggil. Data mereka langsung menjadi arsip aktif yang memicu peringatan otomatis di fasilitas kesehatan terdekat, memastikan rujukan dan penanganan terjadi dalam hitungan jam. Ini adalah kemenangan Fast Result melawan birokrasi, didorong oleh kearsipan yang responsif.Misi 2: Penurunan Angka Tuberkulosis (TB) – Melacak Musuh di Jaringan DataPerang melawan TBC membutuhkan lebih dari sekadar obat, butuh intelijen yang tajam dan berkelanjutan. Penurunan angka TB secara cepat menuntut pemantauan yang ketat, terutama untuk mencegah pasien putus obat (loss to follow-up). Beberapa arsip pasien TB tersebar, tidak terstandar, dan seringkali tidak terkoneksi dengan riwayat contact tracing. Akibatnya, pemerintah kesulitan mengidentifikasi secara cepat di mana klaster penularan baru muncul atau pasien mana yang berisiko mangkir dari pengobatan. Solusi yang dilakukan kearsipan harus bertransformasi menjadi Intelijen Data Berbasis Big Data. Seluruh riwayat pengobatan, data contact tracing, dan hasil lab dikumpulkan ke dalam database terstruktur yang siap diolah. Arsip tidak lagi berfungsi sebagai tempat penyimpanan, melainkan sebagai sumber daya yang akan secara otomatis mengirimkan alert (peringatan) ke petugas kesehatan lapangan jika ada pasien yang seharusnya mengambil obat tetapi belum terdeteksi. Ini adalah Intervensi Tepat Sasaran yang sangat cepat—kekuatan prediksi dari arsip yang terstruktur—mewujudkan Best Result dalam kepatuhan pengobatan dan mempercepat kemenangan atas TB.Misi 3: Penambahan RSUD – Membangun Kesiapan Operasional dari NolPembangunan dan penambahan RSUD baru harus berjalan baik dan cepat. Setiap hari penundaan berarti hilangnya kesempatan melayani masyarakat. Inovasi kearsipan di sini adalah Manajemen Aset Digital. Seluruh dokumen proyek pembangunan RSUD, sejak tahap perencanaan hingga pengadaan jarum suntik, wajib terangkum dalam satu data elektronik terpusat yang immutable (tidak dapat diubah). Selain itu, kearsipan aset medis (garansi, jadwal kalibrasi) harus terintegrasi. Transformasi digital ini menjamin Kesiapan Operasional Cepat. Audit legalitas dapat diselesaikan dalam hitungan jam karena semua arsip tersedia digital. RSUD baru dapat berfungsi memberikan layanan terbaik (Best Result) kepada masyarakat di lokasi baru dalam jangka waktu yang ditetapkan PHTC (Fast Result).Strategi Pemicu Transformasi Kearsipan NasionalMewujudkan PHTC melalui kearsipan bukan sekadar membeli software baru; ini adalah tentang keberanian untuk merombak struktur lama. Ini adalah langkah-langkah krusial yang harus dilakukan untuk memastikan transformasi kearsipan ini benar-benar menjadi pilar negara. Regulasi Wajib Digitalisasi yang ketat, menetapkan batas waktu tegas (deadline) bagi seluruh fasilitas kesehatan (dari Puskesmas terkecil hingga RSUD terbesar) untuk bermigrasi total ke e-Arsip. Ini adalah tindakan simbolis: membakar jembatan kertas. Kearsipan harus menjadi sistem born-digital, di mana data diciptakan dalam format elektronik sejak awal, menjamin standar metadata yang seragam dan memutus rantai birokrasi manual yang menghambat PHTC. Transformasi kearsipan tidak akan berhasil tanpa investasi yang tepat pada infrastruktur dan sumber daya manusia. "Senjata" Kearsipan: Sumber Daya Manusia, Infrastruktur, Data dan KeamananMenyediakan cloud storage yang terpusat, tangguh, dan sangat aman untuk menampung miliaran arsip kesehatan sensitif, memastikan data selalu tersedia kapan pun dibutuhkan. Melatih kembali atau merekrut Arsiparis baru yang memiliki kompetensi teknis di bidang data science dan keamanan siber. Mereka adalah garda terdepan, para profesional yang memahami bahwa mereka kini mengelola aset data paling berharga negara. Terkait dengan konsolidasi data, Potensi kecepatan PHTC hanya dapat maksimal jika tidak ada sekat antar-instansi. Arsip Puskesmas, RSUD, dan Kementerian harus berbicara dalam satu bahasa. Implementasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (SRIKANDI) secara menyeluruh. Tujuannya adalah menciptakan "Satu Kebenaran Nasional" (a single source of truth). Dalam hiruk-pikuk kecepatan, kita tidak boleh melupakan etika. Data kesehatan adalah arsip yang paling sensitif. Oleh karena itu, setiap langkah transformasi harus mematuhi dan mengedepankan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Kecepatan harus bersanding dengan kerahasiaan. Transformasi kearsipan harus menjamin keamanan data siber yang berlapis, membangun kembali kepercayaan publik bahwa data pribadi mereka, meskipun cepat diakses untuk layanan PHTC, tetap aman dan terjamin legalitasnya.Arsip, Warisan Kecepatan dan KualitasTransformasi kearsipan ini pada akhirnya adalah tentang kepercayaan dan keberanian mengambil keputusan. Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di bidang kesehatan—dengan target mulia Cek Kesehatan Gratis, Penurunan TBC, dan Penambahan RSUD—adalah manifestasi dari cita-cita akselerasi pembangunan bangsa. Kita tahu bagaimana kearsipan yang bertransformasi menjadi Pusat Informasi Cepat mampu menciptakan tindakan instan untuk pasien, menyediakan intelijen prediktif untuk melawan TBC, dan menjamin kesiapan operasional RSUD baru tanpa hambatan birokrasi legalitas. Inovasi seperti RME terintegrasi adalah bukti bahwa arsip bukan lagi beban administratif, melainkan aset strategis yang paling berharga. Pada akhirnya, tantangan terbesar PHTC di sektor kesehatan bukanlah ketiadaan sumber daya, melainkan keterlambatan informasi. Transformasi kearsipan yang didukung oleh regulasi berani, investasi infrastruktur, dan kesadaran etika keamanan data adalah satu-satunya jalan keluar. Oleh karena itu, transformasi ini adalah kunci pembuka kecepatan yang menjamin bahwa setiap hasil terbaik yang dicapai—setiap nyawa yang diselamatkan lebih cepat, setiap kebijakan yang tepat sasaran—dapat dipertanggungjawabkan, berkelanjutan, dan yang paling penting, dicapai dengan kecepatan yang menjadi ciri khas kepemimpinan PHTC saat ini.Ini adalah warisan yang kita tinggalkan: sistem kesehatan yang gesit, di mana kebenaran data selalu tersedia, setiap saat, untuk setiap rakyat.
Disini anda dapat mengunduh laporan pemantauan harian berpotensi kejadian Krisis Kesehatan tanggal 24 November 2025 Lihat Laporan Pemantauan Harian Pusat Krisis Kesehatan 24 November 2025
Disini anda dapat mengunduh laporan pemantauan harian berpotensi kejadian Krisis Kesehatan tanggal 23 November 2025 Lihat Laporan Pemantauan Harian Pusat Krisis Kesehatan 23 November 2025