Komitmen Kemenkes Mempercepat Peningkatan Kompetensi ASN Melalui Integrasi Sistem Pembelajaran Berkelanjutan Berbasis Digital

Dalam upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing aparatur sipil negara (ASN), Lembaga Administrasi Negara (LAN) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 9/K.1/HKM.02.2/2025 tanggal 24 Juli 2025 tentang Akselerasi Penerapan Sistem Pembelajaran Terintegrasi (Corporate University/Corpu) di instansi pemerintah. Kebijakan ini bertujuan mempercepat pengembangan kompetensi ASN secara berkelanjutan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN.Sistem Corpu mendorong transformasi organisasi menjadi pusat pembelajaran. Seluruh pegawai, pimpinan, dan pemangku kepentingan dilibatkan aktif dalam proses peningkatan kompetensi yang terarah dan selaras dengan visi, misi, serta tujuan pembangunan nasional.Pada tahun 2025, LAN menargetkan minimal 25% instansi pemerintah telah mengimplementasikan sistem ini. Fokus utama diarahkan pada peningkatan literasi digital ASN sebagai indikator kinerja prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Ditargetkan 50% ASN menguasai budaya dan keterampilan digital, guna mendukung pemanfaatan teknologi secara optimal dalam pelayanan publik.Selain itu, pembelajaran ASN juga diarahkan pada lima kompetensi kunci: Literasi digital (50% ASN) Layanan unggul (50% ASN) Anti korupsi (50% ASN) Adaptasi dan inovasi (6% ASN) Praktik ramah lingkungan (6% ASN) Untuk mendukung pelaksanaan kebijakan ini, LAN melalui Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN membuka layanan konsultasi dan advokasi teknis melalui Direktorat Sistem Pembelajaran Terintegrasi. Instansi dapat melakukan koordinasi melalui WhatsApp di +62 821-6262-5103 atau email ke [email protected] Kesehatan menyambut baik kebijakan ini dan menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan penerapan Corpu. Dalam konteks pelayanan kesehatan, penguatan literasi digital ASN menjadi prioritas agar mampu: Mengoptimalkan teknologi dalam penyelenggaraan layanan kesehatan. Mendorong inovasi publik di sektor kesehatan. Memastikan pengelolaan data dan informasi kesehatan secara efektif, aman, dan terintegrasi. Melalui kebijakan ini, Kemenkes berkomitmen menjadikan literasi digital sebagai bagian dari kompetensi inti ASN. Hal ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih profesional, adaptif, inovatif, dan berintegritas di era digital.

Dari Belajar ke Berkarya: ASN Kemenkes Ikuti Welcoming Seminar Re-entry Program

Jakarta, 22 September 2025 – Kementerian Kesehatan melalui Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur menyelenggarakan Welcoming Seminar Re-entry Program sebagai tanda dimulainya program re-entry bagi ASN Kemenkes yang baru saja menyelesaikan tugas belajar.Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti oleh para pejabat pimpinan tinggi (JPT) Madya dan Pratama, calon peserta Re-entry Program periode Juli–Desember 2025, mentor, serta perwakilan unit pengelola kepegawaian.Re-entry Program merupakan tindak lanjut pengembangan kompetensi pasca tugas belajar. Program ini dirancang agar ilmu dan pengalaman yang diperoleh ASN selama studi tidak hanya berhenti dalam bentuk tugas akhir akademik, tetapi benar-benar diterapkan dalam bentuk adaptasi, knowledge sharing, dan penugasan strategis di unit kerja masing-masing.Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan menekankan bahwa program ini adalah kesempatan penting untuk memastikan keberlanjutan manfaat tugas belajar. “Ilmu yang Saudara peroleh harus diubah menjadi aksi nyata, memberikan nilai tambah bagi organisasi, dan mendukung transformasi kesehatan nasional,” ujarnya.Rangkaian seminar juga menghadirkan paparan tentang budaya kerja Kemenkes, kebijakan kepegawaian terkini, arah transformasi kesehatan, serta sesi motivasi bertema “Dari Belajar ke Berkarya: Mengubah Ilmu Menjadi Aksi Nyata.” Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan LMS Plataran Sehat sebagai platform pendukung implementasi Re-entry Program.

ASN Kemenkes Belajar ke Negeri Tirai Bambu: Radiologi Canggih untuk Transformasi Kesehatan

Sebanyak 27 tenaga kesehatan Indonesia telah menyelesaikan International Training Course on Medical Imaging yang berlangsung pada tanggal 8–28 September 2025 di Beijing, Changzhou, dan Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.Pelatihan ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Kesehatan RI dengan Komisi Kesehatan Nasional RRT, difasilitasi Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta. Program ini menghadirkan rangkaian kuliah, diskusi, serta praktik langsung mengenai teknologi pencitraan medis terkini, termasuk CT-Scan, MRI, kedokteran nuklir, radioterapi, dan pemanfaatan artificial intelligence untuk diagnosis klinis.Selain memperoleh pengetahuan dari para pakar di RS Union Beijing dan RS Zhongshan Universitas Fudan, peserta juga berkesempatan mengunjungi pabrik United Imaging di Changzhou dan Shanghai untuk mempelajari proses manufaktur, inovasi teknologi radiologi, hingga sistem pemeliharaan peralatan.Peserta pelatihan terdiri dari dokter spesialis radiologi, radiografer, teknisi elektromedik, serta dosen Politeknik Kesehatan yang berasal dari berbagai rumah sakit vertikal Kemenkes dan perguruan tinggi kesehatan. Setelah kembali ke tanah air, seluruh peserta diharapkan dapat menularkan ilmu dan pengalaman melalui kegiatan knowledge sharing di unit kerja masing-masing, sehingga manfaat pelatihan ini dapat dirasakan secara lebih luas.Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, menyampaikan apresiasi kepada para peserta atas partisipasi aktif dan dedikasi selama pelatihan. “Saudara-saudara bukan hanya memperoleh ilmu, tetapi juga membawa pulang praktik terbaik untuk memperkuat layanan radiologi di Indonesia. Saya minta hasil pembelajaran ini dibagikan dan diimplementasikan demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan rujukan,” ujarnya.Kegiatan ini menjadi bagian penting dari agenda Transformasi Sistem Kesehatan, khususnya pilar penguatan layanan rujukan dan peningkatan kompetensi SDM kesehatan, dengan harapan layanan radiologi di Indonesia semakin modern, berkualitas, dan berdaya saing global.

Mengasah Negosiasi, Menguatkan Diplomasi: Global Health Diplomacy Training Batch 2

Jakarta (17–18 September 2025) – Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur selaku pengelola Kementerian Kesehatan Corporate University bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) menyelenggarakan Pelatihan Diplomasi Kesehatan Global Batch 2 di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Kuningan, Jakarta. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas strategis pimpinan dan pejabat Kemenkes dalam memahami dinamika diplomasi kesehatan internasional, sekaligus meningkatkan kemampuan negosiasi dan kerja sama lintas negara.Dalam sambutannya, Wakil Menteri Kesehatan Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, KEMD., Ph.D menegaskan bahwa diplomasi kesehatan bukan sekadar bagian dari kebijakan luar negeri, tetapi menjadi instrumen penting dalam menentukan masa depan kesehatan bangsa.“Setiap ASN Kemenkes adalah diplomat kesehatan Indonesia. Anda mewakili bangsa ini dalam setiap diskusi dan kolaborasi lintas negara,” ujar Wamenkes. “Pelatihan ini bukan sekadar teori, tetapi latihan nyata untuk membentuk ASN yang berani bicara, cerdas bernegosiasi, dan mampu membawa kepentingan nasional ke kancah global.”Pelatihan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti oleh 23 peserta, terdiri dari pimpinan unit, Project Management Office (PMO), dan ketua tim kerja dari berbagai unit utama di lingkungan Kementerian Kesehatan. Para peserta memperoleh pembekalan materi dari berbagai narasumber nasional dan internasional, antara lain Daniel Blockert (Duta Besar Swedia untuk Indonesia), Dr. Ahmed Razavi (UKHSA – IHR Strengthening Project Lead, Southeast Asia), Prof. Tjandra Yoga Aditama (Direktur Pascasarjana Universitas YARSI), dan Mr. Lluis Vinals Torres (WHO Regional Office for the Western Pacific).Berbagai materi yang dibawakan meliputi topik kerja sama multilateral dan bilateral, strategi komunikasi diplomatik, penyusunan draft position paper hingga simulasi perundingan internasional melalui kegiatan role play pada pertemuan WHO/ASEAN. Berbagai sesi materi membahas topik mulai dari kerja sama multilateral dan bilateral, public speaking and diplomatic communication, hingga simulasi perundingan internasional. Melalui simulasi ini, peserta berlatih menyusun position paper dan menyampaikan intervention statement sebagaimana praktik diplomasi di forum WHO atau ASEAN.Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperdalam pemahaman konsep diplomasi kesehatan, tetapi juga mengasah kemampuan berpikir strategis, negosiasi, komunikasi diplomatik, serta etika representasi internasional. Kolaborasi antara Kemenkes dan WHO ini menjadi wujud nyata sinergi lintas lembaga dalam membangun kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang adaptif terhadap tantangan global serta memperkuat posisi Indonesia dalam tata kelola kesehatan global (global health governance).