Jakarta, 25 Agustus 2026 – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur (P2KA), berkolaborasi dengan International Development Program (IDP) Education Indonesia dan Monash University, menyelenggarakan kegiatan masterclass bertajuk “Digital Innovation and Community-Centred Approaches to Improve Health Outcomes in Indonesia” pada tanggal 24 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Gedung Prof. Sujudi Kemenkes RI ini menjadi wadah bagi para pemangku kebijakan, tenaga kesehatan, dan akademisi untuk membahas inovasi layanan kesehatan berbasis digital dan komunitas. Selain mendorong pemanfaatan teknologi dalam mendukung penanganan dan pemulihan penyakit kronis, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam membangun layanan kesehatan yang inklusif, adaptif, dan berpusat pada masyarakat.

Transformasi Digital Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Membuka kegiatan, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa transformasi digital merupakan salah satu dari enam pilar yang menjadi arah kebijakan kesehatan Pemerintah Indonesia. Menurutnya, inovasi digital perlu dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan.

“Inovasi digital harus dibangun, lahir, dan tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat itu sendiri. Melalui pendekatan yang berpusat pada komunitas, kita memiliki kemampuan untuk merancang ekosistem kesehatan yang dapat mendampingi pasien secara psikologis dengan lebih berkelanjutan,” ungkap Dante dalam sambutannya.

Dante juga menekankan bahwa teknologi harus berfungsi sebagai perpanjangan tangan tenaga kesehatan dalam menjangkau dan mendampingi pasien serta keluarganya. Hal ini penting untuk memastikan terwujudnya keadilan akses, sehingga tidak ada satu pun warga negara yang tertinggal dalam memperoleh hak atas kesehatan.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Pusat Data dan Teknologi (Pusdatin) Kemenkes RI, Eko Sulistijo, menekankan pentingnya dukungan infrastruktur digital dalam mengembangkan berbagai inovasi yang lahir dari masyarakat. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas membutuhkan sistem dan data yang terintegrasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.

“Inovasi yang lahir dari akar rumput membutuhkan infrastruktur data yang andal agar dampaknya dapat ditingkatkan ke skala nasional. Melalui ekosistem SATUSEHAT, kami berupaya memastikan bahwa setiap inovasi pendampingan pascarawat, rekam medis pasien, hingga program intervensi komunitas dapat saling terhubung secara mulus,” kata Eko.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan bahwa SATUSEHAT tidak hanya berfungsi sebagai platform integrasi data kesehatan, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan sistem kesehatan formal dengan layanan berbasis komunitas, seperti puskesmas dan posyandu. Dengan integrasi tersebut, pelayanan kesehatan dapat diberikan secara lebih presisi, personal, dan berkelanjutan.

Menggali Tantangan Kesehatan dari Perspektif Komunitas

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi masterclass yang membahas penerapan metode partisipatif dalam merancang inovasi kesehatan. Sesi ini dipandu oleh Prof. Narelle Warren, antropolog medis dan peneliti ilmu sosial dari Monash University, dengan isu stroke sebagai studi kasus.

Melalui metode co-design, peserta diajak mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi penyintas stroke dan keluarganya berdasarkan empat aspek, yaitu kepercayaan, akses, informasi, dan sistem kesehatan. Dari diskusi tersebut, peserta mengambil kesimpulan bahwa tantangan pemulihan stroke tidak hanya berkaitan dengan layanan medis. Integrasi layanan pascarawat inap yang belum optimal dan tingginya biaya perawatan jangka panjang juga menjadi tantangan bagi pasien dan keluarga.

Karena itu, penguatan layanan kesehatan tidak cukup hanya melalui penambahan fasilitas medis, tetapi juga membutuhkan dukungan di lingkungan tempat tinggal pasien. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu pasien dan keluarga menjalani proses pemulihan secara lebih berkelanjutan.

Melalui aktivitas pile sorting, peserta juga memetakan berbagai dampak yang dapat muncul setelah seseorang mengalami stroke. Selain memengaruhi kondisi kesehatan, stroke dapat berdampak pada kondisi ekonomi keluarga, kesehatan mental, kehidupan sosial, serta meningkatkan beban caregiver yang mendampingi penyintas.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya solusi yang dapat memberikan dukungan secara menyeluruh, tidak hanya kepada pasien tetapi juga kepada keluarga dan lingkungan di sekitarnya.

Menyesuaikan Inovasi dengan Kebutuhan Daerah

Dari rangkaian diskusi tersebut, masterclass menekankan pentingnya keseimbangan antara standardisasi teknologi dan penyesuaian dengan kondisi masyarakat di masing-masing daerah.

Solusi digital yang dikembangkan perlu memiliki standar yang dapat diterapkan secara luas. Namun, hal tersebut harus tetap memberikan ruang untuk menyesuaikan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Kolaborasi Kemenkes RI, IDP Education Indonesia, dan Monash University dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pengembangan inovasi kesehatan, serta mendorong lahirnya inovasi kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Artikel ini disiarkan oleh Pusat Data dan Teknologi Informasi - Tim Transformasi Teknologi dan Digitalisasi Kesehatan (Pusdatin-TTDK), Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567, WhatsApp chatbot 0811-10-500-567 atau email [email protected].