Jakarta, 15 Juni 2026 - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi - Tim Transformasi Teknologi & Digitalisasi Kesehatan (Pusdatin-TTDK) telah berhasil mengintegrasikan data antara SATUSEHAT IndonesiaKu (SSI) Cek Kesehatan Gratis (CKG) dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) sejak April 2026.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari penguatan transformasi digital kesehatan nasional. Integrasi dilakukan untuk mendukung upaya penanggulangan Tuberkulosis (TB), yang hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia dengan estimasi 1,09 juta kasus per tahun. Melalui integrasi ini, kesinambungan layanan dan pemanfaatan data kesehatan dapat ditingkatkan sehingga proses penemuan kasus dan tindak lanjut pasien berjalan lebih efektif.

Ekosistem ini didukung oleh kesuksesan program CKG yang telah diluncurkan oleh pemerintah sejak Februari 2025. Sebagai program berskala masif yang kini telah menjangkau lebih dari 100 juta warga per Mei 2026, CKG berhasil mengumpulkan basis data skrining kesehatan dalam skala besar, mencakup identifikasi faktor risiko hingga gejala yang mengarah pada TB.

Dewi Nur Aisyah, Wakil Ketua Tim Kerja Kesehatan Primer dan Komunitas TTDK Kemenkes RI, menegaskan bahwa pembaruan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan temuan suspek, tetapi juga memastikan penanganan pasien berjalan berkesinambungan. Sebelumnya, hasil skrining CKG dan tindak lanjut di SITB berada dalam ekosistem terpisah, sehingga berpotensi menimbulkan keterlambatan layanan dan duplikasi pemeriksaan.

“Melalui integrasi dua arah ini, data dapat dimanfaatkan secara timbal balik. Pasien TB aktif yang tercatat di SITB akan langsung teridentifikasi di SSI CKG sehingga tidak perlu skrining ulang. Sebaliknya, suspek TB yang ditemukan saat CKG dapat segera ditindaklanjuti melalui SITB secara cepat dan efisien,” ujar Dewi.

Proses penyelarasan kedua sistem ini telah dimulai sejak Juni 2025 lewat serangkaian diskusi bersama Direktorat Penyakit Menular Kemenkes RI dan World Bank sebagai mitra pembangunan, disusul dengan fase pengembangan teknis intensif selama 4 hingga 5 bulan sejak November 2025.

Integrasi SSI CKG dan SITB menghadapi sejumlah tantangan karena dua sistem ini dikembangkan secara terpisah dengan struktur data dan kebutuhan operasional yang berbeda. Untuk mengatasi hal tersebut, tim melakukan penyelarasan data sehingga informasi dari kedua sistem dapat dipertukarkan secara akurat tanpa mengganggu operasional yang telah berjalan.

Selain itu, aspek keamanan dan keandalan pertukaran data juga menjadi perhatian utama. Seluruh proses integrasi dirancang mengikuti standar keamanan yang berlaku di ekosistem SATUSEHAT guna memastikan data kesehatan masyarakat tetap terlindungi.

Sistem ini juga dirancang untuk memangkas beban kerja administratif tenaga kesehatan melalui prinsip single input. Hilangnya kewajiban input data ganda (double input) membuat alur kerja tenaga kesehatan (nakes) menjadi lebih sederhana sehingga mereka dapat mengalihkan waktu dan tenaganya pada pelayanan langsung kepada pasien.

Stefhanie Chitra, Product Manager TTDK Kemenkes RI, menjelaskan bahwa peningkatan efisiensi dalam penemuan kasus didukung oleh mekanisme penilaian risiko yang berjalan secara otomatis dan terintegrasi dalam instrumen skrining CKG. Melalui pengisian kuesioner gejala dan riwayat kontak, sistem akan menghitung tingkat risiko peserta secara otomatis untuk membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

“Jika tergolong berisiko tinggi, sistem akan langsung memberikan rekomendasi pemeriksaan diagnostik lanjutan yang sesuai standar, seperti BTA, TCM, NPOC, atau X-Ray. Tak hanya itu, integrasi ini juga dirancang sebagai sistem peringatan dini untuk memastikan suspek TB dapat segera ditindaklanjuti,” pungkas Stefhanie.

Lanjut Stefhanie, jika ada suspek TB yang belum menyelesaikan pemeriksaan lanjutan, nakes dapat melakukan tindak lanjut berdasarkan data kontak yang tersedia. Adapun keberhasilan integrasi SSI CKG dan SITB diproyeksikan menjadi fondasi sekaligus model percontohan transformasi ekosistem digital kesehatan nasional.

Selanjutnya, Kemenkes RI menargetkan pertukaran data rekam medis elektronik (RME) yang lebih luas. Hal tersebut termasuk integrasi hasil laboratorium, NPOC, dan X-Ray dari SITB ke SATUSEHAT Platform.

Dalam jangka panjang, model interoperabilitas data ini akan diperluas untuk mengintegrasikan layanan promotif-preventif, program penyakit prioritas, dan tata kelola pembiayaan bersama BPJS Kesehatan. Hal ini agar seluruh alur klinis dan administrasi kesehatan di Indonesia dapat berjalan dalam satu ekosistem yang utuh dan saling terintegrasi.