Bayangkan mengintegrasikan layanan kesehatan di lebih dari 10.000 puskesmas yang tersebar di 17.380 pulau Indonesia. Bagi banyak orang, hal itu mungkin terdengar seperti tantangan yang nyaris mustahil. Namun bagi Fauziah Mauly Rahman, tantangan tersebut justru menjadi alasan mengapa transformasi digital kesehatan begitu penting. Melalui pemanfaatan teknologi dan integrasi sistem, layanan kesehatan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dengan kualitas yang lebih baik.
Sebagai Operation Analyst Tim Kerja Kesehatan Primer, Komunitas dan Penanggulangan Penyakit (Kesprimkom P2) dari Tim Transformasi Teknologi dan Digitalisasi Kesehatan (TTDK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Fauziah telah terlibat dalam berbagai upaya pengembangan dan implementasi solusi digital untuk layanan kesehatan primer.
Melalui pengalaman tersebut, ia berkesempatan melihat langsung beragam kondisi layanan kesehatan primer di berbagai daerah. Dari situlah ia memahami bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang dibangun, tetapi juga oleh sejauh mana teknologi tersebut mampu menjawab kebutuhan pengguna dan beradaptasi dengan kondisi setempat.
Melihat Tantangan dari Lapangan
Salah satu pengalaman yang paling membentuk cara pandangnya adalah ketika tim melakukan asesmen kualitas internet di lebih dari 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Hasil asesmen tersebut menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima puskesmas masih menghadapi keterbatasan akses internet atau bahkan belum terhubung ke internet sama sekali. Temuan ini memperlihatkan bahwa transformasi digital tidak hanya bergantung pada aplikasi atau sistem yang dibangun, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur yang mendukungnya.
“Saya jadi memahami bahwa keterbatasan infrastruktur, seperti akses internet yang tidak stabil dan keterbatasan listrik, dapat menjadi tantangan dalam pemanfaatan teknologi. Sehingga solusi yang dikembangkan perlu mempertimbangkan kondisi di lapangan,” ujar Fauziah.
Berangkat dari pemahaman tersebut, pada tahun 2024, Fauziah dan Tim Kerja Kesprimkom P2 juga terlibat dalam kolaborasi lintas sektor untuk menguji pemanfaatan internet berbasis satelit di puskesmas, khususnya di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), sebagai salah satu upaya memperkuat konektivitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia (Selengkapnya: s.id/udcU2).
Selain tantangan infrastruktur, ia juga melihat bagaimana fragmentasi sistem informasi kesehatan masih menjadi hambatan dalam proses pencatatan dan pelaporan. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya membutuhkan ketersediaan teknologi, tetapi juga sistem yang terintegrasi dan mampu mendukung alur kerja nakes.
“Dalam satu puskesmas bisa ada 30 sampai 40 sistem informasi yang digunakan. Akibatnya, nakes sering kali harus mengelola hingga puluhan sistem berbeda hanya untuk keperluan pelaporan,” ungkap Fauziah.
Menurutnya, keberhasilan transformasi digital layanan kesehatan primer membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Penguatan infrastruktur, integrasi sistem informasi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia perlu berjalan beriringan agar nakes dapat memanfaatkan teknologi secara optimal dalam mendukung pelayanan kepada masyarakat.
Jeda untuk Tumbuh dan Membawa Perspektif Baru
Setelah beberapa tahun terlibat dalam berbagai inisiatif transformasi digital kesehatan, Fauziah memutuskan untuk melanjutkan studi magister di Australia pada tahun 2025. Baginya, keputusan tersebut bukan sekadar langkah akademis, melainkan kesempatan untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana teknologi dapat mendukung sistem kesehatan secara lebih berkelanjutan.
Di sana, ia mempelajari berbagai pendekatan dalam human-computer interaction (HCI), termasuk bagaimana merancang teknologi yang lebih berpusat pada kebutuhan pengguna. Ia juga mempelajari penyusunan roadmap transformasi digital kesehatan serta berbagai praktik yang diterapkan di negara lain.
“Bagi saya, pendidikan adalah investasi untuk melihat tantangan dengan kacamata yang lebih luas. Mengambil jeda untuk belajar kembali membuat saya melihat tantangan dengan perspektif yang lebih luas,” ungkap Fauziah.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya bahwa transformasi digital tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, kemauan untuk terus belajar, serta komitmen untuk melakukan perbaikan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Saya belajar bahwa tidak semua jawaban harus ditemukan sejak awal. Hal yang terpenting adalah tetap memiliki rasa ingin tahu, terus belajar, dan tidak kehilangan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.”
Kembali untuk Berkontribusi
Kini, pada tahun 2026, Fauziah kembali berkontribusi bagi transformasi kesehatan Indonesia bersama TTDK Kemenkes RI. Ia optimis bahwa dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi yang tepat guna, layanan kesehatan primer di Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi nakes maupun masyarakat.
Perjalanannya menegaskan bahwa transformasi digital merupakan proses panjang yang membutuhkan kolaborasi berkelanjutan agar setiap inovasi memberi manfaat nyata. Pada akhirnya, pembangunan sistem kesehatan yang lebih baik berarti membangun sistem yang benar-benar bekerja untuk manusia.