Jakarta, 23 April 2026 — Siapa di sini yang suka bermain sepak bola? Basket? Nah, kalau melihat teman kalian jatuh dan terluka saat bermain, apa yang kalian lakukan? Pasti langsung bantu. Itu refleks kita. Lukanya nyata, terlihat, lokasinya jelas, dalamnya pun bisa terukur. Tapi sekarang bayangkan, jika yang terluka itu bukan fisiknya, melainkan hati atau perasaannya? Kadang dari luar tidak tampak, tapi di dalam hatinya sedih, cemas, overthinking, merasa tidak cukup baik, atau bahkan merasa sendirian. Pertanyaannya, apa yang bisa kita lakukan? Sering kali kita diam. Bukan karena tidak peduli, tapi tidak tahu harus bagaimana.
Demikian pertanyaan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono kepada audiens saat membuka acara bedah buku berjudul Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis Bagi First Aider di Sekolah Jenjang SMP dan SMA, di Kantor Kemenkes Jakarta (23/4). Acara ini dihadiri oleh perwakilan dari 10 SMP dan 12 SMA di wilayah DKI Jakarta, yang masing-masing diwakili oleh 3 orang murid yang aktif di OSIS, Pramuka, dan UKS, 1 guru Bimbingan Konseling, dan 1 perwakilan manajemen sekolah. Acara ini diselenggarakan oleh Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI dan Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, dalam rangka memperingati Hari Buku Sedunia setiap tanggal 23 April.
Wamen Dante menyebutkan berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara berdasarkan data CKG 2025, ternyata anak usia sekolah dan remaja menunjukkan kemungkinan gejala depresi dan kecemasan hampir 5 kali lebih besar daripada kelompok usia dewasa dan lansia. “Artinya, di antara kita yang hadir hari ini, mungkin ada teman yang terlihat baik-baik saja, padahal sedang berjuang dalam diam. Masalah kesehatan mental seperti inilah yang sering kita sebut sebagai luka psikologis, luka yang tidak terlihat, tidak berdarah, tapi bisa terasa sangat berat. Dan kalau tidak ditangani, ia dapat mempengaruhi belajar, pergaulan, bahkan masa depan seseorang,” jelasnya.
Ditambahkan Wamen bahwa kita perlu satu keterampilan penting: Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis. “Kabar baiknya, kalian semua bisa melakukannya. Tidak harus jadi ahli. Cukup jadi manusia yang peduli,” kata Wamen Dante.
Buku Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis bagi First Aider di Sekolah jenjang SMP dan SMA ini hadir bukan sekadar untuk dibaca tetapi untuk dipraktikkan. Ini merupakan sebuah panduan sederhana tentang bagaimana kita bisa lebih peka, lebih peduli, dan lebih berani membantu orang-orang di sekitar kita. Kita semua bisa jadi teman yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, mau memahami sebelum menilai, dan berani berkata: "Kamu nggak sendirian, aku ada di sini." Buku ini dapat diakses melalui link https://repository.kemkes.go.id/book/1321
Wamen Dante mengapresiasi semua pihak yang terlibat, dari proses penyusunan buku hingga terselenggaranya kegiatan hari ini. Semoga ini menjadi langkah nyata untuk menghadirkan sekolah yang lebih aman, lebih hangat, dan lebih peduli dengan saling menjaga, berani peduli, dan hadir untuk satu sama lain.
Acara bedah buku diisi dengan laporan panitia oleh Aji Muhawarman selaku Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Imran Pambudi selaku Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes yang memberi pengantar pada buku berjudul Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis Bagi First Aider Di Sekolah Jenjang SMP dan SMA, Lusy Faiqo selaku perwakilan guru Bimbingan Konseling, dan Sulastry Pardede seorang psikolog klinis.(gi)